Pages

Cari :

Kriteria Untuk Memilih

Dalam upaya memilih kebijakan terbaik dari sejumlah alternatif, kita haruslah memahami dulu makna ”terbaik” itu sendiri. Dalam hal ini, anda harus menentukan sendiri kriteria apa yang anda maksud terbaik; agar anda lebih terarah dalam mengumpulakn data terkait dengan penentuan kebijakan.
Dalam bab ini, kamu menyarankan sejumlah rambu yang dapat anda gunakan dalam myatakan dan mensistematis kriteria anda. Meski tatanan nilai kriteria tumbuh dari banyak sumber, satu kriteria penting dalam pengambilan kebijakan adalah ilmu ekonomi.
Ada banyak macam kriteria, tapi kita tidak memilih kriteria diri sendiri, kita memilih kriteria yang etis.
PEMBENTUKAN KRITERIA YANG ETIS
Diawal penentuan kriteria, sebagaimana dalam mendefinisi ulang masalah, kita harus memulainya dengan kumpulan nilai tertentu dan hal yang tak bernilai, yang nantinya akan kita coba untuk mensistemasi ulang.
Hal pertama yang harus diingat adalah efisiensi, meski dalam hal ini kita harus mendefinisikan efisiensi secara tegas dalam pengambilan kebijakan.
Selanjutnya, anda harus membuat kriteria yang jelas, hingga dapat digunakan dalam analisis kuantitatif; konsisten, hingga anda dapat menyandingkan tata nilai positif dengan yang tak layak satu sama lain; dan secara umum, dapat anda gunakan sebagai pembanding satu alternatif dengan yang lain.
Uji konsistensi atas kriteria yang anda tetapkan dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria dari Jeremy Bentham; Bahwa kebijakan dikatakan sebagai yang terbaik adalah kebijakan yang kebaikan yang terbesar bagi golongan dengan jumlah terbesar.
Kriteria yang harus dipertimbangkan adalah yang paling dekat dengan kejelasan, konsisten, secara umum menghasilkan keuntungan nyata, dalam analisis keuntungan pembiayaan. Adalah sangat penting untuk memulai kriteria dalam menentukan pilihan lalu menggunakannya bersamaan dengan fakta-fakta terkait dalam mencari kebijakan kebijakan yang terbaik. Sayangnya, masih banyak yang menggunakan metoda terbalik; menentukan kebijakan dulu, lalu mencari alasan pendukungnya.
KECENDRUNGAN DAN KELAYAKAN POLITIS
Makna ”terbaik” yang telah kami sarankan pada anda untuk memilih berhubungan pula dengan kecendrungan politis- baik itu berhubungan dengan kesejahteraan secara umum atau standar nilai moral pada umumnya. Kami meminta anda membedakan antara kecendrungan dan kalayakan politis- tingkat kemungkinan sebuah kebijakan dapat dilaksanakan dan diterapkan.
Ada dua konsep yang terkait, disinilah kami ingin anda menghubungkan sekaligus membedakan keduanya. Nilai akhir yang dihasilkan kebijakan tergantung kapeda sebesar apa manfaat yang dirasakan-disukai-dan hasil sebenarnya yang dicapai. Nilai sebuah hasil kebijakan juga ditentukan seberapa besar usaha anda dan seberapa banyak sumberdaya yang anda gunakan dalam mendukungnya.
Kelayakan politis bukanlah sejumlah bilangan yang dapat diteliti. Ia melibatkan usaha anda sendiri dan orang – orang yang anda yakinkan. Setiap analisi yang sitematis dalam pengambilan keputusan harus memperhatikan kelayakan dan seberapa disukai kebijakan itu nantinya. Nilai penting dari kelayakan adalah berbanding lurus dengan seberapa banyak orang yang mendukung kebijakan itu. Banyak analis profesional yang telah menggunakan analisa tingkat keuntungan pembiayaan.
ETIS: TUJUAN DAN PENTINGNYA
Analis biasanya menggunakan dua tipe kriteria etis dalam menentukan kebijakan. Pertama, telologis (dari bahasa Yunani telos atau ”akhir”) yang memperhatikan hasil akhir dari penerapan kebijakan- konsekwensi dari penerapan kebijakan. Kedua, non-telologis yang memungkinkan kebijakan dibatalkan ditengah jalan. Hal yang kedua ini biasanya penting mengingat ia tidak menginginkan kita mengadopsi tipe tertentu dalam kebijakan ”apapun yang terjadi”.
Satu cara mengkombinasikan kriteria telologis dan non-telologis dalam satu kriteria keputusan berhubungan dengan bentuk yang mereka biasa asumsikan. Saat dimana kriteria telologikal dibuat jelas dan operasional, biasanya kuantitatif dan beragam sebagaimana alternatifnya.
Lebih jauh, ada kriteria yang diambil dari batasan ciri khusus atau keterbatasan tetapi tidak muncul dari sudut tata nilai moral maupun sosial.
Tipe lain dari kriteria yang muncul sebagai ciri khusus dan non-telologis adalah jaminan tingkat pendidikan minimum atau kesehatan untuk semua penduduk.
SUMBER KRITERIA YANG ETIS
Masyarakat terbentuk dari berbagai pihak yang menganut tata nilai yang beragam. Masyarakat juga memiliki beragam agama dan kepercayaan yang membentuk tata nilai itu.
Dalam menentukan apakah sebuah kebijakan membuat masyarakat lebih baik, pakar sosial dalam disiplin ilmu berbeda akan memiliki pendekatan yang berbeda pula. Perbandingan paling sistematis dibuat oleh pakar ekonomi yang menggunakan model abstrak dari ekonomi pasar atau memperkirakan keuntungan dan biaya dalam urusan pembiayaan dan keuangan.
Standar dasar kesejahteraan ekonomi mengambil bentuk dari pembuat formulasi awalnya, Vilfredo Pareto, yang mencari bentuk aturan untuk membentangkan sirkumstansi dimana satu kondisi bisa jadi penentu tak-ambigu dan suprior atas yang lainnya. Ia menyatakan, Situasi A lebih baik dari pada situasi B jika setidaknya satu orang lebih menyukai situasi A dibanding situasi B, sementara tidak seorangpun menyukai situasi B dibandingkan A.
Mari bandingkan antara kebijakan yang telah ada dengan alternatif kebijakan yang ditawarkan, sebagaimana telah dirumuskan Vilfredo Pareto. Kebijakan A lebih baik dari pada Kebijakan B jika setidaknya satu orang lebih menyukai Kebijakan A dibanding Kebijakan B, sementara tidak seorangpun menyukai Kebijakan B dibandingkan Kebijakan A.
Yang Paling merakyat dari kasus dimana kebijakan akan secara simultan menguntungkan bagi sekelmopok orang dan merugikan bagi sekelompok yang lainnya maka biarkan pimpinan ekonom mencoba mengembangkan kriteria Pareto. Kondisi ini melibatkan pembandingan antara dua kepentingan yang akan diarahkan pada satu penyelesaian yang saling menguntungkan. Salah satunya dengan ”Kriteria Kaldor” yang membiarkan pihak yang beruntung dari diterpakannya satu kebijakan untuk menghitung besaran untuk yang nantinya akan diberikan pada pihak yang dirugikan sebagai kompensasi guna menekan kerugian mereka.
ANALISIS MANFAAT DAN BESARAN BIAYA
Kriteria Kaldor dimulai dengan memberi peringkat pada pilihan yang lebih disukai oleh orang-perorangan dan mempersilahkan kerugian pihak yang dirugikan untuk membandingkannya dalam terminology keuangan dengan pendapatan setidaknya sebagian para pemeroleh untung. Ini hanya awal langkah singkat yang abstrak dari kriteria Kaldor pada kriteria lapangan (kehidupan nyata). Analisis pembiayaan dan keuntunganya juga mencoba memberi garis besar manakala masyarakat lebih baik berhenti sebagai sebuah hasil dari sebuah kebijakan atau perubahan.
Sebuah asumsi dasar dari manfaat pembiayaan adalah dua pernyataan setara dari keadaan pasar yang diperbandingkan. Manfaat keseluruhan atau manfaat rata-rata secara menyeluruh harus dikalkulasikan sebagai pembeda antara pendapatan dalam penerimaan dan produksi yang telah meningkat, dan kerugian yang dialami pada saat dimana produksi mengalami penurunan.
Manakala sebuah kebijakan diajukan untuk dilaksanakan dan membutuhkan dana untuk pelaksanaannya, biaya yang terkait dalam kebijakan ini hendaklah dimasukkan dalam analisis dampak manfaat pembiayaan. Hal ini memerlukan pengesahan akan kemungkinan keterbatasan dalam pembuatan kebijakan semisal keterbatasan dana yang tersedia dalam penerapan kebijakan.
Berdasarkan kriteria Pareto, analisis kebijakan memerlukan lebih dari sekedar identifikasi belaka lantas dapat menghasilkan kebijakan yang dianggap paling baik. Kebijakan juga menyangkut reaksi atas penerapannya dikemudian hari.
Rasio biaya yang dikeluarkan atas manfaat yang didapat dari sebuah kebijakan dapat dijadikan kriteria dalam evaluasi kebijakan. Efisiensi disini dapat diartikan sebagai mendapat manfaat terbesar dari yang direncanakan per unit biaya yang dikeluarkan.
Analisis Biaya-Manfaat berbagi dengan Kriteria Pareto sebuah kebutaan akan identitas para pemeroleh untung atau penderita kerugian dan kepada distribusi pembiayaan dan manfaat diantara individu.
KRITERIA KESETARAAN
Optimalisasi kriteria Pareto dan analisis biaya-manfaat telah mempertegas apa yang di anggap para ekonom sebagai efisiensi, dengan meminimalisir pembiayaan, atau dengan memaksimalkan manfaat dalam terminology pemenuhan hal yang lebih disukai. Adalah penting pula untuk mengenali bahwa kepedulian pada aspek keadilan seringkali memainkan peran penting dalam mempelajari kebijakan publik.
Terminologi ”kesetaraan” meski digunakan secara luas oleh para ekonom, tidaklah mengandung kedekatan dengan efisiensi sebagai sebuah kriteria etis. Begitupun beberapa beberapa penilaian dalam upaya membangun kerangka kerja dimana pandangan berbeda tentang kesetaraan dan keadilan dapat diperbandingkan.
Perbedaan tersebut diatas, tampak dalam ”Kesetaraan Vertikal” dan ”kesetaraan horisontal”.
Kesetaraan horosintal telah didefinisikan sebagai perlakuan setara dari pihak yang setara. Sedang lawannya ”Kesetaraan Vertikal” didefinisikan sebagai perlakuan tidak setara terhadap orang orang yang tidak setara dalam satu sirkumstansi.
Kita menemukan bahwa standar standar untuk kesetaraan vertikal adalah lebih sulit diterapkan dibanding kesetaraan horisontal.

KESIMPULAN


Untuk memilih kebijakan terbaik dari sejumlah alternatif kebijakan, kita harus merumuskan kriteria yang jelas yang mendefinisikan ”terbaik” itu memiliki indikasi apa saja.
Kriteria yang etis umumnya adalah telologis seperti, kepuasan, kebertahanan, kesejahteraan materi, yang beragam tingkatannya. Analis biasanya menggunakan dua tipe kriteria etis dalam menentukan kebijakan. Pertama, telologis (dari bahasa Yunani telos atau ”akhir”) yang memperhatikan hasil akhir dari penerapan kebijakan- konsekwensi dari penerapan kebijakan. Kedua, non-telologis yang memungkinkan kebijakan dibatalkan ditengah jalan. Hal yang kedua ini biasanya penting mengingat ia tidak menginginkan kita mengadopsi tipe tertentu dalam kebijakan ”apapun yang terjadi”.

Kriteria etis yang kita gunakan adalah tata nilai yang berlaku dalam masyarakat kita atau kelompok didalam masyarakat kita. Disiplin ekonomi bersama hal dibawahnya seperti kesejahteraan ekonomi.
Manakala sebuah kebijakan diajukan untuk dilaksanakan dan membutuhkan dana untuk pelaksanaannya, biaya yang terkait dalam kebijakan ini hendaklah dimasukkan dalam analisis dampak manfaat pembiayaan. Hal ini memerlukan pengesahan akan kemungkinan keterbatasan dalam pembuatan kebijakan semisal keterbatasan dana yang tersedia dalam penerapan kebijakan.
Uji konsistensi atas kriteria yang anda tetapkan dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria dari Jeremy Bentham; Bahwa kebijakan dikatakan sebagai yang terbaik adalah kebijakan yang kebaikan yang terbesar bagi golongan dengan jumlah terbesar.
Analis biasanya menggunakan dua tipe kriteria etis dalam menentukan kebijakan. Pertama, telologis (dari bahasa Yunani telos atau ”akhir”) yang memperhatikan hasil akhir dari penerapan kebijakan- konsekwensi dari penerapan kebijakan. Kedua, non-telologis yang memungkinkan kebijakan dibatalkan ditengah jalan. Hal yang kedua ini biasanya penting mengingat ia tidak menginginkan kita mengadopsi tipe tertentu dalam kebijakan ”apapun yang terjadi”.
Makna ”terbaik” yang telah kami sarankan pada anda untuk memilih berhubungan pula dengan kecendrungan politis- baik itu berhubungan dengan kesejahteraan secara umum atau standar nilai moral pada umumnya. Kami meminta anda membedakan antara kecendrungan dan kalayakan politis- tingkat kemungkinan sebuah kebijakan dapat dilaksanakan dan diterapkan. Kriteria yang harus dipertimbangkan adalah yang paling dekat dengan kejelasan, konsisten, secara umum menghasilkan keuntungan nyata, dalam analisis keuntungan pembiayaan. Adalah sangat penting untuk memulai kriteria dalam menentukan pilihan lalu menggunakannya bersamaan dengan fakta-fakta terkait dalam mencari kebijakan kebijakan yang terbaik.

REFERENSI

Duncan Mac Rae,Jr and James A. Wild, Policy Analysis For Public Decision
University of North Carolina at Chapel Hill

World Breaking News

Belajar Bahasa Inggris Mandiri

Artikel Komputer

 

Pilih Tulisan

KlaK-KliK

Kabar Bengkulu

Kabar Nusantara

Instagram