Pages

Cari :

Kritik Epistemogi Barat M.T. Misbah Yazdi

Istilah epistemologi dipakai pertama kali oleh J.F. Feriere yang maksudnya untuk membedakan antara cabang filsafat, yaitu epistemologi dan ontologi (metafisika umum).
Kalau dalam metafisika, pertanyaan pokoknya adalah “ apakah hal yang ada itu ?” maka pertanyaan dasar dalam epistemologi adalah “apakah yang dapat saya ketahui?”

Epistemologi berasal dari kata Yunani, episteme dan logos. Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran dan logos diartikan pikiran, kata, atau teori. Epistemologi sesara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar, dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam bahasa inggrisnya menjadi theory of knowledge.

Istilah-istilah lain yang setara maksudnya dengan epistemologi dalam pelbagai kepustakaan filsafat kadang-kadang disebut juga logika material, cirteriology, kritika pengetahuan, gnosiology dan dalam bahasa indonesia lazim dipergunakan filsafat pengetahuan.

Epistemologi, seperti yang diungkapkan oleh Amin Abdullah, sedikitnya membahas tiga persoalan mendasar; pertama, sumber pengetahuan; dari mana dan bagaimana memperoleh pengetahuan yang benar. Kedua, sifat pengetahuan; apakah segala sesuatu itu bersifat fenomenal (tampak) ataukah essensial (hakiki). Ketiga, validitas (kebenaran) sesuatu pengetahuan; bagaimana pengetahuan yang benar dan yang salah dapat dibedakan.

Di dalam filsafat Islam , Epistemologi disebut Syinakht syinasi dalam bahasa Persia, dan Al-Ma’rifah dalam bahasa Arab. Ma’rifah dalam bahasa Arab mempunyai banyak penggunaan, tetapi lazimnya ia berarti pngetahuan ( knowledge ), kesadaran ( awareness ), Informasi. Adakalanya ia digunakan dalam arti pencerapan khusus (idrak juz’i atau particular perception), dan adakalanya ia juga dipakai dalam arti tindak pengingatan ulang (tadzakur atau recognition). Kadang-kadang  ia juag dipakai dalam arti ilmu yang sesuai dengan kenyataan dan melahirkan kepastian dan keyakinan.

Dalam karyanya Al-Manhaj Al-Jadid fi Ta’lim Al-Falsafah M.T. Misbah Yazdi membahas tentang epistemologi.  Pada Dars 11, Taqi menjelaskan tentang pentingnya epistemologi dalam berfikir filsafat. Emistemogi dapat digunakan sebagai alat untuk menjawab kegamangan atas semua pertanyaan manusia dalalm mencari kebenaran.

Materialisme dan nihilisme menurut Taqi tidak memberikan kenyamanan psikologis dan kesejahteraan sosial bagi masyarakat Barat Modern saat ini. Hal ini karena epistemologi dalam filsafat Barat berakhir pada kesimpulan bahwa metafisika ( Ketuhanan ) sudah tidak diperlukan lagi. Epistemologi Barat menutut pembuktian pada indra atau akal sehingga ketika pembuktian metafisika tidak dapat dijawab oleh akal secara empiris maka mereka menghilangkan Metafisika dari filsafat. David Hume ( 1711 -1776 M ), Immanuel Kant (1724 – 1804 M), Agus Compte ( 1798 – 1857 M ), dan para penganut positivisme membangun masyarakat Barat dalam kerancuan epistemologi mereka.

Filsafat Islam adalah filsafat yang berlandaskan pada ketuhanan. Bebeda dengan Barat yang identik dengan doktrin dogma Kristen sehingga sering diposisikan sebagai lawan filsafat, di kalangan masyarakat muslim filsafat dan agama tidak bertentangan bahkan saling melengkapi. Bahkan dalam beberapa ayatnya, al-Qur’an senantiasa menyuruh kepada umat Islam untuk berfikir. Karena itu ketika hampir semua aliran pemkiran terkena imbas positivisme, filsafat Islam tetap kokoh dan malah semakin kuat.

Dalam sejarahnya faktor penyebab perdebatan epistemologi adalah karena tersingkapnya berbagai kekurangan dan kesalah panca indra dalam mengungkap hakikat kejadian-kejadian eksternal. Faktor itu pula yang mendorong aliran Elatik meragukan pencerapan iderawi (sensory perception) dan lebih mempercayai pengetahuan rasional. Di sisi lain, perbedaan dan pertentangan pengetahuan rasional membuat para sofis untuk sama sekali menolak nilai segenap pencerapan rasional, bahkan mereka menyangkal keberadaan eksternal.

Sejak itu, Aristoteles mengumpulkan prinsip logika sebagai standar berpikir benar dan menilai kesahihan suatu bukti rasional sangatlah besar. Setelah sekian puluh abad, prinsip-prinsip ini masih berguna. Kalangan Marxis yang semula habis-habisan menentang logika pada ahirnya menerimanya.

Dalam perkembangan filsafat Yunani, sedikitnya dua kali Eropa mengalami krisis skeptisme. Pada masa Renaisans dan perkembangan sains-sains empiris, secara bertahap empirisme diterima kembali dan diterima oleh kalangan yang lebih luas, dan hingga saat ini masih dirasakan dominasi pengaruhnya.

Penyelidikan sistmatis pertamakali dilakukan oleh Gottfried Wilhem Leibniz (1646 – 1716 M) dan John Locke (1632 – 1704 M)  hingga ahirnya epistemologi menjadi cabang filsafat mandiri. George Berkley (1685 – 1753 ) dan David Hume melanjutkan penyelidikan epistemologi. Empirisme kedua filosof ini berhasil memperlemah posisi kalangan rasionalis. Hingga Kant yang rasionalis juga terpengarus ide-ide Hume.

Kant berpendapat bahwa tugas filsafat yang paling penting ialah mengukur nilai pengetahuan manusia dan bahwa akal mampu memikul tugas tersebut. Akan tetapi ia mengakui kesimpulan-kesimpulan akal teoritis hanya pada lingkaran sains empiris, matematika, dan bidang-bidang yang berada di bawah keduanya. Dengan demikian pembahasan metafisika dikesampingkan dari filsafat.

Di dalam filsafat barat epistemolgi memiliki kecenderungan empirisme yang sangat kuat, dimana filsafat digunakan adalah untuk menjawab fenomena yang ada pada masyarakat kemudian mencari pembenaran terhadap fenomena itu. Dikarenakan fenomena dalam masyarakat selalu berkembang dan mereka melepaskankan metafisika dari dasar pembahasan filsafat maka dalam perkembangannya pemikiran filsafat hanya berahir pada pragmatisme.

Berbeda dengan Filsafat Barat, yang epistemologinya terus mengalami guncangan. Dalam Filsafat Islam pembahasan epistemolgi semakin kukuh. Walaupun ada beragam kecenderungan kontras yang melahirkan tantangan bagi filosof muslim, mereka selalu mempertahankan ajaran pokok mereka bahwa akal adalah dasar pemecahan semua masalah metafisika. Pemikiran filsafat dalam Islam juga dipakai untuk menafsirkan, menyingkap dan menangkap pengalaman gnostik. Hal ini lazim dipakai oleh para kaum ‘urafa yang menyebutnya sebagai “gonsis ilmiah”.

Beberapa aliran yang menentang filsafat Islam mempunyai dua sumber. Salah satunya ialah kelompok yang beranggapan bahwa pandangan kefilsafatan bertentangan dengan tafsiran harfiah al-Qur’an dan Sunnah. Pada sisi lain, para ‘urafa yang menekankan pentingnya perjalanan ruhani, mencemaskan kecenderungan filosofis akan berakibat pada kelalaian manusia akan metode makrifat dan jalan hati. Karenanya mereka mengabaikan akal dan mengklaim para rasionalis berjalan dengan kaki kayu ( yang getas ).

Pada kenyataannya Islam tidak akan terancam oleh pemikiran-pemikiran para filosof. Dengan semua kekurangan dan kesesatannya, setelah mencapai perkembangan dan kematangan, filsafat justru menampakan kebenaran-kebenaran Islam. Adalah Suhrawardi Al-Maqtul (549 H / 1153 M  s.d 578 H/ 1191 M), yang memadukan kecenderungan peripatetik Ibu Sina dengan teologi Al-Ghazali serta mistisme Al-Hallaj memunculkan sebuah aliran pemikiran filsafat yang disebut Al-Hikmah Al-Israq yang oleh beberapa kalangan menyebutnya sebagai teosofi. Lalu pada beberapa abad setelahnya Mullah Shadra melanjutkan tradisi filsafat Islam dengan memunculkan sebuah pemikiran baru Al-Hikmah Al-Muta’aliyah.

Demikianlah pemikiran filsafat Islam dalam perkembangannya semakin memperkuat posisi Islam baik di dalam maupun di luar. Di dalam filsafat Islam mampu menjadi sebuah alat untuk memperkuat keimanan penganutnya kepada Tuhan, dan sisi yang lain filsafat Islam mampu menjawab kegamangan dan kerancuan yang tak terpecahkan dalam filsafat Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Nasr, Sayyed Hossein., 2006, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam (alih bahasa: Ach. Maimun Syamsuddin), Yogyakarta: IRCiSoD.

Nur,  Syaifan., 2003, Mulla Shadra Pendiri Mazhap Al-Hikmah al-Muta’aliyah, Jakarta: Teraju.

Siraj, Fuad Mahbub.,2012, Al-Ghazali Pembela Islam Sepanjang Masa, Jakarta: PT. Dian Rakyat.

Yazdi, M.T. Mesbah., Plosophical Instructions: An Introduction to Contemporary Islamic Philosophy.

Yazdi, M.T. Misbah.,2003, Buku Daras Filsafat Islam -Buku Pertama (alih bahasa: Musa Kazhim dan Saleh Bagir), Bandung: Penerbit Mizan

This article was shared from here.

World Breaking News

Belajar Bahasa Inggris Mandiri

Artikel Komputer

 

Google+ Saya

Google+ Followers

Pilih Tulisan

KlaK-KliK

Kabar Bengkulu

Kabar Nusantara

Instagram